Dalam kuliah Ma’rifatullah akan tergambar betapa Islam merupakan integrasi antara syareat – tarekat – hakekat. Ketiga unsur ini terpusat dan dilandasi ma’rifatullah.  Dalam hadis nabi yang populer, disebutkan :

أَوَّلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَةُ اللهِ

“Asas agama adalah ma’rifatullah”.

Al dîn, ialah wahyu Allah yang sesuai dengan akal sehat, dengan usaha keras ke arah itu, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat

 

Sebagian ulama memandang bahwa hadis ini perkataan Ali bin Ali Thâlib.  Disini, bukanlah tempat untuk mempertentangkannya tetapi cukup diambil jiwanya saja karena ulama-ulama tafsir di dalam memahami surat Muhammad (47):19 sepakat bahwa haram hukumnya taklid dalam akidah. Dalam istilah lain, mengenal dan memahami Allah wajib berdasarkan ilmu. Ilmunya tentunya ilmu dari Allah swt.

Abdullah Ibnu Abbas seorang sahabat Nabi ahli tafsir Al Qurân,menafsirkan surat Al Dzâriat (51):56 yang berbunyi ”liya’budûni” maksudnya ”lima’rifatî” yaitu untuk makrifat kepada-Ku.

Pada pembahasan berikutnya akan dibahas bahwa Ma’rifatullahadalah puncak atau tujuan akhir manusia. Inti dan tugas semua para nabi dan Rasul adalah Ma’rifatullahtermasuk misi utama Al Qurân. Bila diumpamakan Ma’rifatullahsatu pohon maka dahannya ada tiga, yaitu;

Pertama           : Al-Tauhîd,

Kedua              : Al-Tajrîd dan

Ketiga              : Al-Tafrîd.

Untuk dapat mehamami lebih mudah dan mendalam berikut ini uraiannya;

 

Pertama : Al Tauhîd

Dahan yang pertama ini dapat dipahami berdasarkan firman Allah swt. diantaranya surah Muhammad [47]:19.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَه إِلَّا اللَّه وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِك وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَات

“Hendaklah kamu mendasarkan kepada ilmu tentang “lâ ilâha illallâh”dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin,laki-laki dan perempuan ……” Q.S.47 : 19.

Surah Al-Baqarah [2]:163, yang artinya :

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa”.

Surah Al-Ikhlas yang artinya :

“Atas nama Allah sumber rahmat, pemancar kasih sayang. Katakanlah ! Allah itu ahad (angka satu yang tidak ada duanya). Allah tempat menggantungkan diri.  Tidak berputra dan tidak diputrakan.  Dan tidak ada yang dapat menandingi seorangpun”.

 

Istilah tauhid tidak kita temukan dalam Al Qur’an, sehingga sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa istilah ini baru populer sesudah terbitnya buku Muhammad Abduh yang berjudul : Risâlah Al-Tauhîd.  Tetapi jika kita telusuri hadis Nabi saw istilah ini akan kita temukan dalam hadis Nabi riwayat Imam  Bukhari :

 

َيَّنَا رَجُلٌ فَمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطٌّ إِلاَّ التَّوْحِيْد فَقَالَ لِأَهْلِهِ، إِذَا مُتُّ فَأَحْرِقُوْنِي ثُمَّ ذَرُوا نِصْفِي فِي البَرِّ وَنِصْفِي فِي البَحْرِي فِي يَوْمِ رِيْحٍ فَفَعَلُوا فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلرِّيْحِ : أَدِّى مَا أَخَذْتِ فَإِذَا هُوَ بَيْنَ يَدَيْهِ. فَقَالَ لَهُ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ ؟ فَقَالَ : اِسْتِحْيآءُ مِنْكَ فَغَفَرَلَهُ. (أخرجه البخاري عن أبي هريرة)

“Ada seorang dari generasi sebelum zaman kamu sekalian yang sama sekali tidak pernah beramal baik kecuali bahwa dia bertauhid saja.  Orang tersebut berwasiat pada keluarganya : “Bila aku mati, bakarlah aku dan hancurkanlah diriku kemudian taburkanlah separuh tubuhku didarat dan separuhnya lagi di laut pada saat angin kencang ”. Keluarganyapun melaksanakan wasiatnya itu, kemudian Allah swt berfirman kepada angin : “Kemarikan apa yang kamu ambil ”.  Tiba-tiba orang tersebut sudah berada disisi-Nya.  Kemudian Allah bertanya pada orang tersebut : “Apa yang membebanimu, sehingga kamu berbuat begitu?”.  Dia menjawab : “Karena malu kepada-Mu”.  Kemudian Allah mengampuninya”. (H.R Imam. Bukhari)

 

Dilihat dari jiwa ayat-ayat dan hadis Nabi riwayat Imam Bukhari tersebut di atas, menunjukkan betapa pentingnya tauhid. Tauhid adalah tingkat pertama Ma’rifatullahkarena ia qath‘u al andâd yaitu memutuskan apa saja yang dianggap sebagai sekutu bagi Allah swt.

Dari segi etimologi tauhid berasal dari akar kata wahhada (fi’il mâdhi) – yuwahhidu (fi’il mudhâri) –tauhîdan (mashdar) berubah jadi wâhid atau wahad dan wahîd.  Sama dengan kata farrada (fi’il madhi) – yufarridu (fi’il mudhâri) – tafrîd (mashdar) berubah jadi farîd.  Akar kata ahad adalah wahada, kemudian huruf wau diganti dengan hamzah sebagaimana huruf-huruf yang dikasrah dan didhammah diganti.  Orang Arab mengatakan wahhadathu  apabila anda menyifati dengan sifat wahdaniyyah (menyifatkan kemaha esaannya).

Inti tauhid adalah kalimat;  اللَّهُ  لَا إِلَهَ إِلَّا     Lâ ilâha illâ llâh (Tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan hanya Allah). Dalam ilmu balaghah susunan kalimat ini, dalam bahasa Arab dikenal dengan susunan yang sangat balîgh (sangat tinggi sastranya) dibandingkan dengan  segala ungkapan  yaitu; la menafikan (menidakkan), ilâha  yang dinafikan (disangkal), illa istitsnâ, (pengecualian),      Allah, itsbât, (penetapan).

Jika dalam satu pertemuan seorang membuat pernyataan : “Muhammad Ali seorang muballigh”, maka pernyataan ini dapat dipahami bahwa Muhammad Amin juga bisa jadi seorang muballigh.  Berbeda jika pernyataan itu berbunyi : “Tidak ada muballigh disini kecuali Muhammad Ali”. Dibandingkan pernyataan ini dengan pernyataan pertama, menunjukan bahwa satu-satunya muballigh hanyalah Muhammad Ali. Disinilah letaknya kebalighannya.

Kata Allah terulang dalam Al Qurân sebanyak 2698 kali. Ini menunjukkan betapa pentingnya kata tersebut. Mayoritas ulama lebih cenderung berpendapat bahwa kata itu tidak musytaq artinya tidak terambil dari satu akar kata tertentu.

 Menurut sebagian ulama , kata ini berakar dari kata walaha yang berarti mengherankan atau menakjubkan”. Semua af’al-Nya (perbuatan-Nya) pasti menakjubkan bagi yang mentafakkurinya. Segala ciptaan-Nya bagi  orang yang mengkajinya sampai sedetail mungkin, apalagi sampai kepada hakekat-hakekat ciptaan-Nya pasti penelitinya akan semakin takjub, tercengang dan akan terheran-heran akan Tuhan yang diperkenalkan oleh Al Qurân dengan nama “Allâh”.

 Pendapat lain mengatakan bahwa kata itu terambil dari akar kata ”aliha-ya’lahu” yang artinya menuju atau bermohon. Setiap makhluk dipastikan bahwa semuanya sedang menuju kepada-Nya rela atau terpaksa, siap atau lalai, sesuai dengan firman-Nya pada surah Al-Baqarah [2]:156. ”…..Innâ lillâhi wainnâ ilaihi râji’ûn”. Setiap makhluk terutama manusia, untuk memenuhi kebutuhannya, pasti akan bermohon kepada Tuhan yang mereka yakini dapat mengabulkannya yaitu Allah swt.

 Sebagian lagi mengatakan bahwa kata itu pada mulanya bermakna mengabdi. Ini dapat dimaklumi karena setiap makhluk ciptaan Tuhan pasti mengabdi kepada-Nya. Di antara sekian banyak makhluk yang mengabdi, manusialah termasuk makhluk yang paling banyak membangkang dan durhaka kepada Allah.

Ulama berupaya membedakan antara kata Allâh dan ilâh dalam kalimat ”lâ ilâha illâ llâh” Imam  Al-Marâghi misalnya mengungkapkan  bahwa ”ilâh”=Tuhan, adalah segala sesuatu yang disembah. Penyembahan itu baik dibenarkan oleh ajaran Islam atau sebaliknya yang tidak ditolerir oleh Islam.  Penyembahan yang tidak ditolerir oleh ajaran Islam adalah menyembah matahari, bulan, bintang, berhala dan hawa nafsu. Dari sini dapat dipahami bahwa ”ilâh” mencakup seluruh objek sesembahan atau semua yang dianggap sebagai kekuatan yang menguasai hidup atau matinya sesuatu. Berbeda dengan zat yang wajib wujudnya (pantas dan mutlak diibadahi) yang diperkenalkan Al Qurân yaitu ”Allah swt”. Dialah yang memiliki nama yang wajib disembah, Al-Khâliq, zat yang harus ada dan selalu  ada berada dengan zat-zat lainnya yang terkenal dengan ”asmâ u al husnâ”

Menarik dikemukan disini apa yang disampaikan oleh seorang ulama kontemporer dan guru besar Universitas Al-Azhar Mesir, pakar bahasa Arab yaitu syekh Mutawwali Al-Sya’rawi. Ia menulis dalam tafsirnya tentang khawash (keindahan dan kekhususan lafaz Allah). Menurutnya, Allah selalu ada dalam diri manusia walaupun ia mengingkari wujud-Nya baik melalui ucapan dan tindakan.  Kata ini selalu menunjuk kepada-Nya yang diharapkan pertolongan-Nya. Perhatikan lafaz ”Allâh”, bila huruf pertamanya dihapus, maka ia akan terbaca ”lillâh” yang artinya berbentuk sumpah ”demi Allah” atau ”milik Allah”. Bila satu huruf berikutnya atau huruf kedua dihapus akan terbaca ”lahu” yang berarti ”untuk-Nya” atau ”milik-Nya”. Kemudian jika huruf berikutnya  yaitu huruf ketiga dihapus juga, ia akan terbaca dan tertulis ” hu” yang dapat dibaca ”huwa” sebagai ”dhamir ghaib”( kata ganti orang ketiga ) yang berarti ”Dia ”yaitu Allah swt.( lihat dhamir ” hu ” pada ayat kursi) dan ayat-ayat lain yang berarti Dia=Allah.

Menarik lagi apa yang dikemukakan oleh Imam Al-Sya’râwi : ” bahwa setiap orang yang mengeluh selalu berkata ah-ih atau uh. (tanpa memandang siapa, bangsa dan keturunan). Kata ini menurut analisanya bahwa di dalamnya tersirat singkatan dari lafaz Allah. Semua ini menunjukkan bahwa sadar atau tidak, setiap orang mengeluh kepada-Nya dan dapat ditarik satu kesimpulan bahwa keyakinan kepada-Nya atau Ma’rifatullahterdapat dalam sanubari setiap insan.Inilah fitrah.   

Betapa penting ungkapan tauhid ini, sehingga di dalam Al Qurân ditemukan istilah ini sebanyak 23 nama  padanan atau sinonim kata Al-Tauhid yaitu :

 

1-kalimah al-ikhlâsh pada surah Al-Zumar ( 39 ) : 2-3,* 2.

2-kalimah  al ihsân pada surah Al-Rahmân (55) : 60,

3-kalimah al ‘adl  ini dapat dipahami dari surah Al-Nahl (16) : 90,

4- kalimah al thayyibah, pada surah Ibrâhim (14) : 24,

5-kalimah al   tsâbitah, pada surah Ibrahim (14) : 27,

6-kalimah al taqwa, pada surah Al-Fath (48) : 26, 

7-kalimah al-shidq, ini difahami dari surah Al-Zumar (39): 33.

8-al thayyib min al qaul  pada surah Al Haj (22): 24.

9- kalimah al bâqiyah pada surah Al Zukhruf ( 43): 28.

10-kalimatullâh al ’ulyâ pada surah Al Taubah (9): 40.

11-al matsalu al a’lâ pada surah Al Nahl (16): 60.

12-kalimah al sawâi pada surah Ali Imrân ( 3 ) : 64.

13-da’wah al haq pada surah Al Ra’du ( 13 ):14.

14-kalimah al ‘ahdi pada surah Maryam (19 ): 87.

15-kalimah al istiqâmah  pada surah Fusshilat (41) : 30.

16-maqâlidu al samâwâti wa al ardh tercantum pada surah Al Zumar (39) : 63.

17-al qaul al sadîd tercantum pada surah Al Nisa ( 4 ): 9,Al Ahzab ( 33 ):  70

18-kalimah al birri tercantum pada surah Al Baqarah (2):177.

19-al dîn al khâlish tercantum pada surah Al Zumar ( 39): 3.

20-al shirâth al mustaqîm tercantum pada surah Al An’âm (6) : 153,Al Syura (42) : 52- 53.

21-kalimah al haq tercantum pada surah Al Zukhruf  ( 43 ) : 86.

22-al ‘urwah al wutsqâ tercantum pada Al Baqarah ( 2 ) : 256.-

23-kalimah al najah ,tidak akan selamat dari siksa Allah kecuali bersama Allah             surah Al Nisa ( 4 ): 28,Luqman (31 ):13

 

Selain kalimah tauhid di atas, puncak dari tauhid terkandung dalam satu surah pendek yang terkenal dengan surah Al-Ikhlas.  Di kalangan para Mufassir (ahli Tafsir) surah ini juga dinamakan surah Al-Tauhid.  Adapun terjemahan kata ahad dalam surah Al-Ikhlas, penulis terjemahkan “satu yang tidak ada duanya” sehingga kalau diterjemahkan “Esa” ini tidak cocok, karena Esa ada Dwi, Tri…, dst; sedang jika diterjemahkan “satu” juga tidak cocok karena satu ada dua, tiga, empat…, dst.  Jika diterjemahkan tunggal juga kurang cocok karena ada double, triple…, dst.Ini dapat dilihat dan dibaca pada tasir ”Mahasin al Takwil ”oleh Imam Al Qasimi surah Al Ikhlas.

Dari aspek dasarnya tauhid terdiri dari :

Pertama : Tauhid al-ilmi, yaitu mengesakan pemahaman yang bersifat berita yang diyakini. Keyakinan ini mencakup penetapan sifat-sifat kesempurnaan Allah swt. dan mensucikan-Nya dari penyerupaan dan penyetaraan dengan selain-Nya dan dari sifat-sifat kekurangan. Tauhid ini tergambar dengan jelas dalam Al Qurân Surah Al-Tauhid (Al-Ikhlas).Tauhid tingkat ini adalah teoritis..

Kedua : Tauhid al-‘amali, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Maksudnya hanya menghamba kepada-Nya semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun, mengesakan dalam mencintai-Nya, ikhlas untuk-Nya, takut (khauf) hanya kepada Nya, berharap (raja’) dan tawakkal kepada-Nya serta rela (ridha) dengan-Nya sebagai Rab (Pencipta, Pengatur, Pemelihara, Pemimpin).Tauhid macam ini tersimpul dalam satu surah yang juga terkenal dikalangan mufassir surah Al-Tauhid  yaitu surah Al-Kafirun.Tauhid al ’amali disini ditekankan pada bidang praktis.

Dalam pengantar ini baru sekedar pengenalan, yang insya Allah akan terbahas sedikit demi sedikit secara bertahap. Sebelum melangkah pada pohon makrifat yang kedua dan ketiga terlebih dahulu membuka pandangan para ulama irfan/ahli Ma’rifatullahtentang tauhid.

 Dzun Nun Al-Mishri misalnya ditanya tentang tauhid,maka beliau berkata :  “Hendaklah engkau ketahui bahwa kekuasaan Allah terhadap makhluk ini tanpa ada campur tangan orang luar, ciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tanpa bantuan orang lain,langsung atau tidak  langsung segala yang ada adalah ciptaan-Nya, ciptaan-Nya pun tidak ada yang cacat.  Setiap yang terproyeksi dalam gambaran jiwamu tentang Allah, maka Dia pasti berbeda.

Yusuf Ibnu Husain berkata : “Tauhidnya orang khusus yaitu tauhid itu total dengan batin, dimanifestasikan dengan hati, seakan-akan ia berdiri di sisi Allah swt. mengikuti aliran yang berlaku dalam aturan-Nya dan hukum-hukum qudrat-Nya, mengarungi lautan fana dari dirinya, hilangnya rasa karena tegak-Nya Al-Haq yang Maha Suci dan Luhur dalam kehendak-Nya.  Dikatakan bahwa alam semesta ini berada dalam arus ketentuan Allah swt. Demikianlah sebahagian kecil pandangan ulama Irfan tentang tauhid.

 

Kedua : Al-Tajrîd.

Dilihat dari asal kata ”al-tajrid”, ia terdiri dari tiga huruf ”ja, ra dan da” yang fi’il madhinya berasal dari kata ”jarrada”, fi’il mudhâri’-nya” yujarridu” dan” tajrîdan” (mashdar) yang berarti menyongsong, menurunkan, menelanjangi. Maksud  ”tajrîd” dalam pembahasan ini adalah: ” pengosongan diri dari selain Allah swt.” yaitu dengan melaksanakan ikhlas.  Ikhlas merupakan langkah pertama dan inti menuju ” al-tajrid”. Ikhlas berarti suci, murni, tidak ada campuran seperti orang Arab menamakan madu murni dengan    : ”’asalun khâlishun” atau emas murni dengan ; ”dzahabun khâlishun”. Berikut ini uraian ikhlas secara umum dalam bentuk skema sebagai ringkasan dari sebuah kitab bernama “ Din al Khalish “:

 

 
 

IKHLAS

 

 

 

 

 

Amal

Bid’ah

Aqidah

Syirik

Niat

Riya/Ujub

                   
     
 
     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Skema tersebut menggambarkan sepertiga dari kandungan Al Qurân ialah Ikhlas dalam akidah yang terkenal dengan kata tauhid , lawannya syirik , orang yang syirik dinamakan musyrik ; sedangkan ikhlas dalam niat lawannya riya ,(unsur mata)’ujub(kebanggaan hati) dan sum’ah(unsur telinga),sedang ikhlas dalam amal ,lawannya bid’ah. Para ulama Irfan/ahli makrifat mengartikan ikhlas dengan menjadikan Allah swt. sebagai satu-satunya sembahan atau pengabdian. Sikap taat dimaksudkan adalah ”taqarrub” (pendekatan diri) kepada-Nya dengan mengenyampingkan makhluk lain, yang biasanya dimaksudkan untuk memperoleh pujian ataupun penghormatan dari manusia.  Atau unsur-unsur lain selain ”taqarrub” kepada Allah swt semata.  Dapat dikatakan, ikhlas dalam amal berarti mensucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk, atau melindungi diri sendiri dari urusan individu-individu manusia.

Dengan ikhlas, baik dalam akidah, dan niat serta amal maka seseorang itu akan mampu ”fana”yaitu tenggelam dalam lautan rububiyah dan uluhiyah-Nya sebagai inti dan hakekat ”:al-tajrîd”. Jika al-tauhid itu dinamakan; ” qath’u al-andâd” berarti memutuskan keterbilangan Allah swt.,  maka ”al-tajrid” dinamakan;” qath’u al-asbâb” yaitu memutuskan segala sebab.. Berbeda lagi dengan istilah ”al-tafrîd” karena ia dinamakan ”qath’u al-jam’i”  yaitu memutuskan bentuk jama’ (plural/keterbilangan). Seperti halnya istilah ”fana” yaitu melepaskan diri dari ruang dan waktu dan tenggelam bersama Allah swt

 

Ketiga,Al-Tafrîd.

Kata  Al-Tafrîd  berasal dari kata; farrada – yufarridu – tafridan – wa furûdan – yang berarti tunggal – bersendirian –mengerjakan sendirian. Dari istilah ini lahir kata mufrad (tunggal) lawan dari jama’ (banyak). Kemudian ‘ain fi’il di syaddah, maka bentuknya berubah menjadi – farrada – yufarridu – tafrîdan. Maksud kata” al-tafrîd” disini adalah pengosongan diri  dalam menempuh perjalanan menuju Allah tanpa perantara dan tanpa ”washilah” (perantara)  apa-apa. Unsur-unsur ”al-tafrîd ”ini minimal ada lima macam yaitu:

1) al-khauf  (takut) yaitu hanya takut kepada Allah baik lahir maupun batin;

2) al-thâ’ah (taat) yaitu senantiasa taat dan patuh hanya kepada Allah semata;

3) al-wara’ (wara) yaitu menuju Allah swt. dengan membelakangi segala urusan lain;

4) al-ikhlâsh (ikhlas) yaitu ikhlas kepada Allah baik niat, ucapan, dan perbuatan;

5) al-murâqabah (kontemplasi) yaitu pengawasan diri dalam segala lintasan batin (hati) dan seluruh manifestasi hidupnya, dimana merasakan sepenuhnya kehadiran Allah swt.   sekalipun Allah swt. melampaui segenap ruang dan waktu.

 

Semua permasalahan tersebut di atas, selanjutnya akan dibahas secara bertahap dan mendalam pada pembahasan berikutnya, Insya Allah.