Tingkatan-tingkatan surga dan neraka

birthofhopepu.jpgSebagian al-muhaqqiqûn (para penegas kebenaran) mengatakan bahwa makhluk pertamakali disifati dengan wujud, kemudian dengan ilmu, kemudian dengan qudrat (kekuasaan, kemampuan), kemudian dengan irâdah (keinginan), kemudian dengan perbuatan hingga ma’âd (tempat kembali) itu menjadi proses kembali pada  fitrah yang asli dan pulang kepada permulaan dalam akhir. Maka seharusnya, sifat-sifat itu harus hilang secara berangsur-angsur dan teratur lagi berlawanan dengan keteraturan yang awal lagi baru.

Pesuluk yang menuju pada Allah Swt dengan langkah keimanan dan cahaya irfan (makrifat), perbuatannya harus lebih dahulu ternafikan dari dirinya. Maqam ini disebut dengan maqam ketakwaan dan kezuhudan di dunia. Setelah itu ikhtiarnya ternafikan dari dirinya hingga tak ada satu pun keinginan dan ikhtiar yang ada di dalamnya. Bahkan dia meleburkan keinginannya dalam keinginan Allah. ”Dan tidak patut bagi seorang mukmin dan mukminat untuk memiliki pilihan ketika Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara”  (QS. al-Ahzâb [33]:36). Karena pada hakekatnya, segala sesuatu berasal dari-Nya dalam konteks yang lebih utuh dan aturan yang lebih kokoh. Jika ia sudah sampai pada maqam ini dan beristiqamah di dalamnya, dia akan ridha dengan ketentuan-Nya. Dengan begitu, dia akan berhasil mencapai maqam keridhaan, tenang dari segala  duka dan nestapa. Sebab, dia melihat segala sesuatu berada pada puncak kedermawanan, kebaikan, keteraturan dan kesempurnaan. Dia melihat rahmat Allah mencakup segala sesuatu bahkan dia menyaksikan wajah al-Haq (Allah) yang kekal dalam segala sesuatu. Dia melihat kebaikan mutlak dan keindahan mutlak termanifestasi padanya dan pada segala sesuatu hingga dia menjadi bersinar, ridha dan merasakan kenikmatan.

Barang siapa yang melihat bentuk seluruh alam ini tersingkap baginya akan memperoleh ilmu “hudhûri” (hadir bersama Allah) dalam konteks yang lebih teratur, lebih rapi, dan lebih  tersusun dan sempurna dari segi ilmu terhadap sebab-sebab dan sumber-sumbernya yang datang dari sisi Allah. Pada saat itu, bentuk-bentuk segala sesuatu telah berganti. Bumi menjadi bumi yang lain dan langit menjadi langit yang lain. Begitu pula, segala sesuatu berubah  bahkan jiwa pesuluk tadi juga berubah. Eksistensinya yang gelap berubah menjadi eksistensi yang bercahaya dan kenistaan jahiliyah hilang dari dirinya. Dia berada dalam surga  yang luasnya seluas langit dan bumi.

Dalam konteks inilah, penjaga surga dinamakan Ridhwân. Karena  selama manusia belum sampai pada maqam keridhaan ini, dia tidak akan masuk surga dan tidak akan sampai pada rumah kemuliaan dan kedekatan. Di dalam hadis qudsi disebutkan,”Barang siapa yang belum ridha dengan ketetapan-Ku dan belum sabar atas cobaan-Ku maka hendaknya dia menyembah tuhan selain-Ku dan keluar dari bumi dan langit-Ku”. Allah berfirman, ”dan keridhaan dari Allah lebih besar” (QS. al-Taubah [9]:72).

Setelah maqam ini, qudrat (kekuatan, kemampuan) niscaya ternafikan dari diri pesuluk hingga dia tidak melihat dalam dirinya ada kekuatan, kekuasaan dan kemampuan yang bertentangan dengan qudrat  al-Haq dan kekuatan-Nya yang tak ada satu pun bisa keluar dari kekuasaan-Nya. Akhirnya, dia berada pada tingkat tawakkal, Barang siapa yang bertawakkal pada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. ”Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya.”  (QS. al-Thalâq [65]:3). Dan ini merupakan maqam penyerahan,  ”dan aku serahkan urusanku pada Allah.” (QS. Ghafir [40]:44).

Kemudian, sifat ilmu niscaya ternafikan darinya karena ilmunya lenyap dalam ilmu Allah yang tidak luput dari ilmu-Nya sekecil atom pun apa yang ada di bumi dan di langit, sebagaimana firman-Nya ketika mengisahkan tentang ilmu-ilmu para malaikat yang melebur dalam ilmu Allah, ”kami tidak memiliki ilmu kecuali apa yang telah Engkau ajarkan pada kami.” (QS. al-Baqarah [2]:32). Inilah maqam taslim  (penyerahan diri), Allah berfirman, ”Serahkan diri kalian dengan sebenar-benarnya penyerahan.” (QS. al-Ahzab [33]:56), ”Keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan.” (QS. al-Waqi`ah [56]:91) ”dan Keselamatan atas kalian, kalian telah berbuat baik maka masuklah ke dalam (surga), kalian kekal di dalamnya.” (QS. al-Zumar [39]: 73).

Setelah itu, wujudnya yang dengannya dia terwujud niscaya ternafikan dalam wujud al-Haq, yang dengannya segala sesuatu terwujud dan bersandar. Serta dengan cahaya-Nya segala bayangan nampak dan abadi hingga dia memiliki wujud dalam dirinya. Inilah maqam ahl al-wahdah (orang-orang yang fana dalam tauhid) yang merupakan maqam teragung dan termulia. Yang saya maksud, kefanaan dalam tauhid adalah mereka itulah yang bersama dengan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah dari para nabi, shiddîqîn, syuhadâ dan orang-orang  saleh. (QS. al-Nisa [4]:49), Allah berfirman, ”Milik siapakah kerajaan ini pada hari ini? Milik Allah yang Mahaesa lagi Maha Membinasakan.” (QS. Ghafir [40]:16), ”dan kekallah wajah Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” (QS. al-Rahman [55]:27). Inilah akhir derajat para pesuluk yang menuju Allah.

Adapun yang belum berjalan melalui jalan ahli wahdah dan irfan serta perbuatan-perbuatannya masih menuruti keinginannya dan kebutuhan alaminya,  dia seperti orang yang diisyaratkan oleh firman-Nya, ”Seandainya al-Haq mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya hancurlah langit dan bumi serta siapa yang ada di dalamnya.” (QS. al-Mukminun [23]:71). Sudah pasti dia terhalangi dari keinginan hawa nafsunya dan terhijab dari keinginan alami dan syahwatnya.  Allah berfirman, ”Dan dihalangi antara mereka dan antara apa yang mereka ingini.” (QS. Saba [34]:54). Kemudian dia mendapatkan murka Allah dan api kemarahan-Nya, ”Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah seperti orang yang mendapatkan kemurkaan dari Allah.” (QS. Âli Imran [3]:162). Hawa nafsu telah membawanya sampai ke neraka hawiyah dan diharamkan baginya dari seluruh yang diinginkan oleh hati dan keinginannya. Dia diikat dan dibelenggu dengan rantai dan belenggu, seperti sifat pemilik dan budak. Dalam konteks ini penjaga neraka dan hawiyah dinamakan Mâlik.

Setiap derajat dari derajat-derajat di surga bertolak belakang dengan tingkatan di neraka. Derajat tawakkal berlawanan dengan tingkatan keterlantaran, Allah berfirman, ”dan jika Allah menelantarkan kalian, maka siapakah yang akan menolong kalian setelah-Nya” (QS. Âli Imran [3]:160). Derajat taslîm (penyerahan diri) berlawanan dengan kehinaan, ”dan barang siapa yang dihinakan oleh Allah, maka siapakah yang memuliakannya.” (QS. al-Hajj [22]:18). Derajat qurbah (kedekatan) dan wahdah (kesatuan) berhadapan dengan tingkatan pengusiran dan kutukan, ”Mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh orang-orang yang mengutuk.” (QS. al-Baqarah [2]:159).

Penafian kekuatan, ilmu dan wujud pada kelompok pertama meniscayakan bagi mereka kekuatan yang tidak terbatas, ilmu ladunni, dan wujud yang kekal lagi abadi. Sedangkan kesewenang-sewenangan dengan sifat-sifat ini pada kelompok kedua mengakibatkan ketidakmampuan yang tidak terbatas, kebodohan total dan kehancuran abadi. Itulah kehinaan yang besar.

Pada bab ini, terdapat banyak hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya dari sahabat-sahabat kami ra. Mereka mengambilnya dari kitab yang berjudul “Ma’âni al-Akhbar” yang ditulis oleh syaikh al-muhadditsîn, Muhammad bin Ali bin Babawaeh.